Cerita demokrasi, pluralisme, dan HAM Indonesia ditampilkan di Jenewa

Jakarta (ANTARA News) – Cerita mengenai keberhasilan demokrasi, pluralisme, dan perlindungan HAM di Indonesia ditampilkan dalam peluncuran inisiatif “Good Human Rights Stories”, di Jenewa pada Rabu (13/2), menjelang masa persidangan Dewan HAM ke-40.

“Setiap negara memiliki cerita keberhasilan dalam pemajuan dan perlindungan HAM yang penting untuk dibagi kepada negara-negara lain,” kata Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.

Menurut Dubes Kleib, setelah 70 tahun diadopsinya Deklarasi Universal HAM, sudah seharusnya masyarakat internasional memperingati HAM dengan cara-cara yang lebih positif  termasuk dengan berbagi kisah sukses dalam memenuhi dan melindungi HAM. 

Dubes Kleib menegaskan bahwa keteguhan Indonesia pada demokrasi dan keberagaman pada hakikatnya berdasarkan pada kesetaraan dan persamaan hak dihadapan hukum, nilai-nilai perdamaian, serta ditujukan untuk kesejahteraan rakyat.

Selain paparan Dubes Kleib, juga ditayangkan video singkat yang menggambarkan perjalanan demokrasi Indonesia dan kisah kemajuan HAM Indonesia di tengah-tengah keberagaman sebagai jawaban untuk kehidupan HAM yang lebih baik pasca-1998. 

Indonesia diundang dalam aliansi ini tentunya karena rekam jejak HAM Indonesia yang semakin baik. 

Indonesia, yang terus menunjukan kepemimpinannya di kawasan di bidang demokrasi dan HAM serta kerjasama efektifitas mekanisme HAM PBB, menjadi rujukan bagi negara-negara lain untuk pemajuan dan perlindungan HAM di tingkat global. 

Pengakuan tersebut tercermin dari kepercayaan yang diberikan pihak penyelenggara kepada Indonesia sebagai negara pertama dari dua kelompok panelis dengan 11 wakil negara yang berbagai pengalaman dalam acara tersebut.

Selain Indonesia, acara peluncuran ini juga dihadiri oleh Komisaris Tinggi HAM PBB dan Presiden Dewan HAM, serta wakil dari Tunisia, Gambia, Uruguay, Selandia Baru, Burkina Faso, Argentia, Cape Verde, Norwegia, Georgia, dan Korea Selatan. 

Wakil organisasi masyarakat sipil yang ikut dalam peluncuran inisiatif ini di Jenewa adalah Internasional Service for Human Rights dan wakil media dari Reuters.

Komisaris Tinggi HAM (KTHAM) dalam pidato pembukaan menekankan pentingnya kerja sama dengan mekanisme HAM PBB. 

Menurut KTHAM, selain kiprah Kantor KTHAM dalam membantu negara di bidang HAM, negara itu sendiri juga perlu memperbaiki kondisi HAM-nya melalui komitmen dan cerita positif masing-masing agar dapat menginspirasi. 

Presiden Dewan HAM yang juga hadir dalam pidatonya menyatakan pentingnya inisiatif lintas wilayah dari 13 negara dan Uni Eropa tersebut karena menunjukkan peran dan dampak Dewan HAM terhadap kehidupan sehari-hari individu.

Sejak awal Indonesia terlibat dalam inisiatif yang diluncurkan Uni Eropa ini bersama 13 negara lainnya. 

“Good Human Rights Stories” merupakan suatu inisiatif aliansi global untuk HAM yang dimajukan oleh Uni Eropa dan sejumlah mitra negara termasuk Indonesia serta wakil LSM dan Media Internasional. 

Inisiatif ini memajukan pendekatan baru dalam pemajuan dan perlindungan HAM berbasis pada keberhasilan dan upaya nyata negara di bidang HAM dan diharapkan memberikan inspirasi bagi negara lain. 

Peluncuran di Jenewa ini merupakan kelanjutan dari peluncuran inisiatif “Good Human Rights Stories” di sela-sela persidangan Majelis Umum PBB ke-73 bulan September 2018 yang dihadiri Sekjen PBB, Komisaris Tinggi HAM PBB, Wakil Presiden/Perwakilan Tinggi Uni Eropa, Menlu RI dan Menteri negara peserta lainnya.

Inovasi “Good Human Rights Stories” diharapkan dapat memperkuat kerja sama internasional untuk penguatan kapasitas negara dalam memenuhi kewajiban HAM-nya, baik secara mandiri maupuan melalui kerja sama bilateral dan multilateral. 

Baca juga: PBB apresiasi kemajuan HAM di Indonesia

Baca juga: KT HAM PBB tidak akan tindaklanjuti petisi dari Benny Wenda

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019