Rakyat Ukraina bersiap hadapi pemilihan presiden

Kiev (ANTARA) – Sebanyak 30 juta orang Ukraina bersiap memberi suara dalam pemilihan presiden pada Ahad, di negara yang telah menghadapi kemelut politik sejak 2014.

Sebanyak lima juta warga Ukraina yang tinggal di wilayah bergolak Donbass di Ukraian Timur, dekat perbatasan Rusia, dan Crimea –yang dicaplok Rusia– tak bisa memberi suara mereka, kata Kantor Berita Turki, Anadolu –yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat malam.

Jika tak ada calon yang meraih lebih dari 50 persen suara pada babak pertama pemungutan suara, dua calon teratas akan maju ke putaran kedua.

Menurut jajak pendapat paling akhir, aktor-komedian Vladimir Zelenskiy menikmati dukungan besar dari pemilih, dan jajak pendapat independen Rating Group memberi dia 26,6 persen.

Presiden petahana Petro Poroshenko dan mantan perdana menteri Yulia Tymoshenko, keduanya, menempati posisi kedua dengan perolehan 17 persen suara.

Masalah ekonomi dan politik di Ukraina meningkat ketika Crimea secara tidak sah dicaplok oleh Rusia pada 2014 dan satu gerakan separatis muncul di Donbass.

Pemilihan presiden pada Ahad akan menjadi yang kedua setelah demonstrasi 2013 diikuti oleh pengambil-alihan pemerintah pro-Barat.

Pemilihan presiden tersebut diperkirakan berlanjut ke putaran kedua.

Sekalipun Zelenskyi menempati posisi pertama, ia mungkin tak bisa meraih sampai 50 persen ambang batas, dan pada babak kedua, seorang calon yang berpengalaman mungkin mengalahkan diri, sebab Zelenskyi memiliki kelemahan latar-belakang.

Hasil dari pemilihan presiden itu diperkirakan mempengaruhi pemilihan anggota Parlemen –yang dijadwalkan pada musim gugur tahun ini.

Blok Poroshenko, yang menguasai mayoritas di Parlemen dalam masa sulit saat Ukraina kehilangan Crimea dan kursi negeri tersebut didominasi oleh kaum separatis, dilaporkan tidak sekuat pada masa lalu.

Menurut jajak pendapat, Partai Tanah Air, yang dipimpin Porosheko, mungkin bertambah kuat sebagai oposisi di Parlemen.

Ukraina telah diguncang konflik di wilayah timurnya sejak Maret 2014, setelah pencaplokan Rusia atas Crimea. Pertempuran melawan kaum separatis di Daerah Donbass telah menewaskan lebih dari 10.000 orang, demikian data PBB.

Penangkapan beberapa pelaut Ukraina oleh Rusia pada November lalu meningkatkan konflik regional.

Sumber: Anadolu

Penerjemah: Chaidar Abdullah
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2019